Kurs Rupiah Bergejolak, Legislator Singgung Trauma Krisis 1998 dan Soroti Komunikasi Pemerintah

ARY
Ilustrasi legislator soroti gejolak terhadap kurs rupiah. (Foto: Molas Images/Marsyago)

adainfo.id – Gejolak kurs rupiah dan tekanan di pasar keuangan dinilai tidak cukup diatasi hanya melalui kebijakan moneter semata.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran investor, faktor kepercayaan publik disebut menjadi penentu utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Anggota Komisi XI DPR RI Muhammad Kholid menilai pemerintah dan otoritas ekonomi perlu memperkuat komunikasi publik secara konsisten agar pasar tidak membentuk persepsi negatif terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

Menurut Kholid, kondisi pasar keuangan global saat ini bergerak sangat cepat dan sensitif terhadap berbagai sinyal maupun persepsi yang muncul dari otoritas ekonomi.

Karena itu, komunikasi yang solid antara pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Kementerian Keuangan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga ekspektasi pelaku pasar.

“Perlu ada strategic management, ekspektasi. Bagaimana mengelola ekspektasi itu strategic. Jadi bukan hanya kebijakan teknis modern, tapi manajemen ekspektasinya harus diperkuat,” papar Kholid dikutip, Senin (18/05/2026).

Investor Kini Lebih Fokus Risiko Masa Depan

Kholid menjelaskan pola pembacaan investor terhadap kondisi ekonomi global saat ini telah mengalami perubahan signifikan dibanding beberapa tahun lalu.

Jika sebelumnya pasar lebih banyak menggunakan data historis sebagai dasar pengambilan keputusan, kini investor justru lebih fokus menghitung berbagai potensi risiko di masa depan.

Menurutnya, pasar keuangan modern bergerak berdasarkan proyeksi dan ekspektasi terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.

Karena itu, respons otoritas tidak cukup hanya berupa intervensi teknis di pasar keuangan seperti stabilisasi kurs atau kebijakan suku bunga.

Legislator Fraksi PKS tersebut bahkan menyinggung teori rational expectation yang diperkenalkan ekonom Robert Lucas untuk menjelaskan pola perilaku pasar saat ini.

Dalam teori tersebut, pelaku pasar dianggap mampu membentuk ekspektasi rasional berdasarkan prediksi kondisi ekonomi masa depan.

“Bahwa pelaku pasar, investor, hedge fund, industri, mereka itu membuat pricing yang rational dengan cara apa? Bukan data kemarin, bukan data hari ini, tapi pricing futurist. Jadi resiko-resiko di masa depan itu dipricing oleh market, ditarik pada hari ini,” terangnya.

DPR Soroti Pentingnya Kepercayaan Pasar

Menurut Kholid, tantangan terbesar pemerintah saat ini bukan hanya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, tetapi juga memastikan pasar tidak melihat Indonesia sedang menuju krisis ekonomi seperti tahun 1998.

Ia menilai trauma terhadap krisis moneter 1998 masih menjadi bayang-bayang yang memengaruhi cara publik maupun investor membaca situasi ekonomi nasional.

Karena itu, pemerintah diminta mampu membangun narasi yang kuat dan konsisten untuk menunjukkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dibanding masa krisis dua dekade lalu.

Dalam pandangannya, komunikasi yang tidak sinkron antarotoritas justru dapat memicu kepanikan pasar dan memperbesar tekanan terhadap rupiah maupun sektor keuangan.

“Message-nya harus loud and clear, harus konsisten. Ini sangat penting. Jadi kalau otoritas itu kompak, otoritas moneter, industri jasa keuangan, kementerian keuangan, dan tetap diikuti dengan tindakan policy yang konsisten, itu memberikan signal bahwasannya hari ini itu berbeda dengan 98,” tutupnya.

Stabilitas Rupiah Jadi Sorotan

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap pergerakan kurs rupiah dan kondisi pasar keuangan global yang dipengaruhi berbagai faktor eksternal.

Tekanan geopolitik, ketidakpastian ekonomi dunia, hingga arah kebijakan suku bunga global menjadi faktor yang memengaruhi sentimen investor terhadap negara berkembang termasuk Indonesia.

Kholid menilai pemerintah perlu memastikan seluruh kebijakan ekonomi berjalan konsisten agar mampu menjaga kepercayaan pasar dan mencegah terbentuknya persepsi negatif yang berlebihan.

Ia juga menekankan bahwa stabilitas ekonomi nasional tidak hanya bergantung pada kekuatan fundamental ekonomi, tetapi juga pada kemampuan pemerintah mengelola persepsi dan ekspektasi pasar secara efektif.

Dengan komunikasi yang kuat dan kebijakan yang sinkron, pemerintah diyakini mampu menjaga optimisme investor sekaligus memperkuat daya tahan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang terus berkembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *