Minyakita Langka di Depok, Pedagang Terpaksa Beli dari Agen dengan Harga Tinggi
adainfo.id – Ketersediaan minyak goreng bersubsidi Minyakita di sejumlah pasar di Kota Depok mengalami kelangkaan signifikan yang memicu lonjakan harga di tingkat pedagang dan konsumen, akibat tersendatnya distribusi dari Perum Bulog sejak sebelum periode Lebaran 2026.
Fenomena ini mulai dirasakan luas oleh masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada minyak goreng bersubsidi untuk menjaga biaya produksi tetap rendah.
Kondisi pasar pun berubah dalam waktu singkat, dari yang sebelumnya relatif stabil menjadi penuh ketidakpastian.
Gangguan distribusi Minyakita disebut sudah terjadi sejak awal bulan sebelum Lebaran.
Pedagang mengaku tidak lagi menerima suplai rutin dari jalur resmi, sehingga stok yang tersedia di pasar semakin menipis dari hari ke hari.
Bayu (30), salah satu pedagang di Pasar Agung Depok, mengungkapkan bahwa pasokan dari Bulog praktis terhenti tanpa kejelasan waktu normalisasi.
“Untuk suplai Minyakita sendiri sudah mulai terhenti semenjak awal bulan sebelum Lebaran kemarin,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Jumat (17/04/2026).
Kondisi ini membuat pedagang kesulitan menjaga ketersediaan barang, terlebih permintaan tetap tinggi pasca Lebaran.
Dalam situasi tersebut, sebagian pedagang hanya mengandalkan sisa stok lama yang jumlahnya terbatas.
Harga Melonjak Hingga 40 Persen Lebih
Kelangkaan pasokan berdampak langsung pada harga jual di tingkat pasar.
Jika sebelumnya Minyakita dijual dengan harga sekitar Rp15 ribu per liter, kini harga melonjak hingga Rp22 ribu per liter.
Kenaikan ini tidak terhindarkan karena pedagang harus mencari pasokan alternatif melalui agen non-resmi dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Biaya distribusi tambahan turut memperparah kondisi harga di lapangan.
“Karena suplai dari Bulog nggak ada, mau nggak mau kita beli dari agen dan harganya jadi lumayan tinggi. Sekarang aja kita jual di harga Rp22 ribu per liter, dari yang tadinya cuma Rp15 ribu,” jelas Bayu.
Lonjakan harga ini turut memicu efek domino pada jenis minyak goreng lainnya.
Minyak goreng premium juga mengalami kenaikan harga, dengan kisaran mencapai Rp45 ribu untuk kemasan dua liter.
UMKM dan Pedagang Kecil Paling Terdampak
Kelangkaan Minyakita paling dirasakan oleh pelaku usaha kecil seperti pedagang kaki lima dan penjual makanan gorengan.
Mereka sangat bergantung pada minyak goreng bersubsidi untuk menjaga harga jual tetap terjangkau.
Ikin (40), seorang pedagang gorengan di sekitar Pasar Agung, mengaku kesulitan mempertahankan keuntungan akibat kenaikan biaya produksi.
“Ya sangat berdampak ketika Minyakita mulai langka, sekalinya ada harganya itu tinggi banget. Soalnya selama ini saya kalau dagang pasti pakainya Minyakita karena lebih murah,” ujar Ikin.
Dengan harga bahan baku yang meningkat, margin keuntungan semakin menipis.
Bahkan dalam beberapa kasus, pedagang harus mengurangi produksi atau menaikkan harga jual, yang berisiko menurunkan daya beli konsumen.
Situasi ini mencerminkan kerentanan sektor informal terhadap fluktuasi harga bahan pokok, terutama ketika distribusi terganggu dalam waktu yang cukup lama.
Kenaikan harga minyak goreng tidak hanya berdampak pada pelaku usaha, tetapi juga langsung dirasakan oleh konsumen rumah tangga.
Minyak goreng merupakan kebutuhan pokok yang digunakan hampir setiap hari.
Ketika harga melonjak, beban pengeluaran rumah tangga ikut meningkat, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menekan daya beli masyarakat secara keseluruhan. Selain itu, kelangkaan juga menciptakan ketidakpastian di pasar.
Konsumen harus mencari ke berbagai tempat untuk mendapatkan minyak goreng dengan harga terjangkau, sementara stok tidak selalu tersedia.
Fenomena ini memperlihatkan betapa pentingnya stabilitas distribusi bahan pokok dalam menjaga keseimbangan ekonomi di tingkat mikro.
Harapan Normalisasi Pasokan dan Pengawasan Distribusi
Para pedagang berharap distribusi Minyakita dapat segera kembali normal agar harga di pasar dapat stabil kembali.
Pasokan yang lancar dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan antara permintaan dan harga. Selain itu, pengawasan distribusi juga menjadi perhatian penting.
Kelangkaan yang terjadi membuka peluang munculnya praktik distribusi tidak resmi yang dapat merugikan konsumen dan pedagang kecil.
Stabilitas pasokan tidak hanya penting untuk menjaga harga tetap terjangkau, tetapi juga untuk memastikan keberlangsungan usaha mikro yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
Dalam konteks yang lebih luas, kondisi ini menjadi indikator penting bagi pengelolaan distribusi pangan nasional.
Ketika satu komoditas mengalami gangguan, dampaknya dapat meluas ke berbagai sektor lain, termasuk UMKM dan konsumsi rumah tangga.
Kelangkaan Minyakita di Depok menjadi gambaran nyata bagaimana rantai distribusi yang terganggu dapat memicu efek berantai yang kompleks, mulai dari lonjakan harga hingga tekanan ekonomi di tingkat masyarakat bawah.












