Bir Pletok Rosha Batavia Depok Tembus Pasar Global, Buktikan Minuman Tradisional Makin Mendunia
adainfo.id – Minuman tradisional khas Betawi, bir pletok, kini menunjukkan daya saingnya di pasar internasional setelah salah satu pelaku UMKM di Kota Depok berhasil menembus berbagai negara melalui inovasi produk dan konsistensi kualitas.
Eksistensi bir pletok tidak hanya bertahan sebagai minuman warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat.
Keberhasilan ini ditunjukkan oleh Rosha Batavia, produsen lokal yang berbasis di kawasan Tanah Baru, Beji, Kota Depok.
Dengan cita rasa khas berbahan rempah-rempah seperti jahe, kayu secang, dan kapulaga, bir pletok tidak hanya dikenal sebagai minuman tradisional pelepas dahaga, tetapi juga memiliki nilai historis dan identitas budaya yang kuat.
Pemilik Rosha Batavia, Ernawati (50), menjadi salah satu pelaku usaha yang konsisten mengembangkan bir pletok sejak 2010.
Perjalanan panjang tersebut kini membuahkan hasil dengan penetrasi pasar hingga ke mancanegara.
“Alhamdulillah untuk produk Rosha Batavia sendiri sudah sampai ikut pameran nasional hingga internasional. Sudah merambah ke Singapura, Bangkok, Dubai, Malaysia hingga Amerika,” ujarnya saat ditemui, Kamis (16/04/2026).
Pencapaian ini menjadi bukti bahwa produk lokal berbasis tradisi memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar global, selama didukung inovasi dan strategi pemasaran yang tepat.
Minat terhadap produk tradisional, menurut Ernawati, tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dari konsumen luar negeri yang tertarik pada keunikan rasa dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Inovasi Produk Jadi Kunci Daya Saing
Dalam menghadapi pasar yang semakin kompetitif, inovasi menjadi langkah strategis yang tidak bisa dihindari.
Rosha Batavia menghadirkan berbagai varian produk untuk menjangkau segmen konsumen yang lebih luas.
Selain dalam bentuk cair siap minum, bir pletok juga dikembangkan dalam bentuk bubuk instan yang lebih praktis dan memiliki daya simpan lebih lama.
Inovasi ini dinilai mampu menjawab kebutuhan konsumen modern yang mengutamakan kepraktisan tanpa mengorbankan cita rasa.
Tak berhenti di situ, Ernawati juga tengah mengembangkan varian baru berupa sirup bir pletok yang ditujukan untuk pasar ekspor.
“Kalo peminat produk-produk tradisional ini sebenarnya cukup besar, hanya tinggal bagaimana kita sebagai produsen membuat produk semenarik mungkin,” jelas Ernawati.
Langkah ini menunjukkan bahwa transformasi produk tradisional menjadi format yang lebih fleksibel merupakan strategi penting untuk memperluas pasar.
Dari Warisan Budaya ke Industri Modern
Perjalanan bir pletok dari minuman tradisional hingga masuk ke sektor modern tidak terjadi secara instan.
Dibutuhkan adaptasi terhadap standar industri, termasuk dalam hal kualitas dan keamanan produk.
Produk Rosha Batavia bahkan telah digunakan sebagai welcome drink di sejumlah hotel di Jakarta.
Hal ini menunjukkan bahwa minuman tradisional mampu beradaptasi dan bersaing di lingkungan industri hospitality yang mengedepankan standar tinggi.

Selain itu, Ernawati juga tengah mempersiapkan sertifikasi Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan membuka peluang ekspor yang lebih luas.
Sertifikasi ini menjadi salah satu syarat penting dalam perdagangan internasional, terutama untuk produk makanan dan minuman.
Dengan standar tersebut, produk bir pletok diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pasar global yang semakin selektif terhadap kualitas dan keamanan pangan.
Selain fokus pada bir pletok, Rosha Batavia juga mengembangkan berbagai produk kuliner khas Betawi lainnya.
Produk seperti akar kelapa, sagon bubuk, tape uli, dan biji ketapang turut diproduksi sebagai bagian dari upaya melestarikan kuliner tradisional yang mulai jarang ditemukan di perkotaan.
Diversifikasi ini tidak hanya memperkuat posisi usaha di pasar, tetapi juga menjadi strategi dalam menjaga keberlanjutan bisnis.
Produk-produk tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai oleh-oleh khas daerah maupun komoditas ekspor berbasis budaya.
Langkah ini sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pengembangan ekonomi kreatif.
Konsistensi dan Ketekunan Jadi Fondasi Utama
Keberhasilan Rosha Batavia tidak lepas dari konsistensi dan ketekunan dalam menjalankan usaha.
Ernawati menekankan bahwa membangun bisnis berbasis produk tradisional membutuhkan kesabaran dan komitmen jangka panjang.
Dengan menjaga kualitas produk dan terus berinovasi, bir pletok berhasil mempertahankan relevansinya di tengah perubahan tren pasar.
Di sisi lain, dukungan terhadap UMKM juga menjadi faktor penting dalam mendorong produk lokal agar mampu bersaing di tingkat global.
Perjalanan ini menjadi gambaran nyata bahwa minuman tradisional seperti bir pletok tidak hanya mampu bertahan.
Akan tetapi juga berkembang sebagai bagian dari industri modern tanpa kehilangan nilai budayanya.
Transformasi tersebut menjadi cerminan bagaimana kearifan lokal dapat diangkat menjadi kekuatan ekonomi yang berdaya saing tinggi di pasar internasional.












