MRT Diperpanjang ke Kota Tua Jakarta, Jadi Kunci Revitalisasi Kawasan Bersejarah
adainfo.id – Perpanjangan proyek Moda Raya Terpadu (MRT) hingga kawasan Kota Tua Jakarta direncanakan sebagai langkah strategis untuk meningkatkan akses transportasi sekaligus mendorong revitalisasi kawasan bersejarah tersebut.
Rencana ini menjadi bagian dari upaya besar dalam menghidupkan kembali kawasan Kota Tua yang selama ini dikenal sebagai pusat sejarah Jakarta, namun dinilai belum optimal dari sisi aksesibilitas dan mobilitas.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa keberadaan MRT akan menjadi faktor penentu dalam mengubah wajah Kota Tua menjadi lebih hidup dan modern tanpa meninggalkan nilai historisnya.
Menurutnya, akses transportasi publik yang terintegrasi akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan aktivitas di kawasan tersebut, baik dari sisi ekonomi maupun pariwisata.
“Game changer Kota Tua adalah MRT. Ketika MRT tersambung hingga Kota Tua pada 2029, kawasan ini akan berubah secara signifikan. Karena itu, konsep transit-oriented development (TOD) sudah kami siapkan sejak sekarang, termasuk kemudahan akses transportasi,” ujarnya dikutip Jumat (10/04/2026).
Pernyataan tersebut mempertegas bahwa pembangunan MRT bukan sekadar proyek transportasi, melainkan bagian dari strategi besar penataan kota berbasis mobilitas modern.
Konsep TOD Dorong Integrasi Kawasan
Dalam mendukung perpanjangan jalur MRT, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyiapkan konsep transit-oriented development (TOD) sebagai pendekatan utama pengembangan kawasan.
Konsep ini mengintegrasikan transportasi publik dengan ruang publik, kawasan wisata, serta pusat ekonomi kreatif, sehingga menciptakan lingkungan yang lebih terhubung dan efisien.
Melalui pendekatan TOD, kawasan Kota Tua diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga menjadi ruang aktivitas masyarakat yang dinamis dan berkelanjutan.
Kehadiran MRT akan mempermudah mobilitas masyarakat sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk berkembang di sekitar kawasan tersebut.
Kemudian, perpanjangan MRT ke Kota Tua diproyeksikan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Kemudahan akses menjadi faktor penting dalam menarik minat masyarakat untuk mengunjungi kawasan bersejarah.
Selain itu, peningkatan kunjungan wisata juga diyakini akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi lokal, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang beroperasi di sekitar kawasan.
Dengan meningkatnya aktivitas ekonomi, kawasan Kota Tua berpotensi menjadi pusat ekonomi kreatif yang menggabungkan nilai sejarah dengan inovasi modern.
Pengembangan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang mendukung keberlanjutan ekonomi sekaligus menjaga karakter kawasan sebagai warisan budaya.
Integrasi Transportasi dan Pengurangan Kemacetan
Selain meningkatkan aksesibilitas, keberadaan MRT juga diharapkan mampu mengurangi kepadatan kendaraan pribadi di kawasan Kota Tua yang selama ini kerap mengalami kemacetan, terutama pada akhir pekan dan musim liburan.
Integrasi transportasi massal menjadi solusi untuk menciptakan sistem mobilitas yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Dengan beralih ke transportasi publik, masyarakat dapat mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam menciptakan kota yang lebih berkelanjutan melalui pengurangan emisi dan peningkatan kualitas udara.
Selain proyek MRT, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mendorong elektrifikasi jalur kereta eksisting yang menghubungkan wilayah utara Jakarta, termasuk rute menuju Tanjung Priok hingga kawasan Jakarta International Stadium.
Pemanfaatan jalur kereta nonlistrik menjadi kereta listrik dinilai sebagai solusi efisien untuk meningkatkan konektivitas tanpa harus membangun jalur baru dari awal.
“Rutenya kurang lebih 16 kilometer pada tahap awal, kemudian sekitar 28 kilometer pada tahap berikutnya. Ini bukan pembangunan baru, melainkan pemanfaatan jalur kereta nonlistrik menjadi listrik,” jelasnya.
Program ini tidak hanya meningkatkan efisiensi transportasi, tetapi juga mendukung upaya pengurangan emisi karbon melalui penggunaan energi listrik yang lebih ramah lingkungan.
Revitalisasi Kawasan dan Penguatan Identitas Budaya
Revitalisasi Kota Tua tidak hanya berfokus pada infrastruktur transportasi, tetapi juga mencakup penguatan identitas budaya sebagai bagian penting dari pengembangan kawasan.
Pemerintah menekankan pentingnya menjaga kawasan cagar budaya seperti Pasar Baru Jakarta dan Glodok sebagai bagian dari ekosistem wisata sejarah yang terintegrasi.
Selain itu, rencana pembangunan Museum Peranakan juga disiapkan untuk memperkaya narasi sejarah Jakarta dan meningkatkan daya tarik wisata.
Kehadiran fasilitas budaya ini diharapkan mampu memberikan pengalaman yang lebih lengkap bagi pengunjung sekaligus memperkuat identitas Kota Tua sebagai pusat sejarah dan budaya.
Pengembangan kawasan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan aspek inklusivitas, sehingga dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dengan dukungan transportasi massal seperti MRT, kawasan Kota Tua diproyeksikan menjadi ruang publik yang lebih hidup, mudah diakses, serta mampu menggabungkan nilai sejarah dengan kebutuhan kota modern yang terus berkembang.












