TBC Masih Jadi Momok di Indonesia, Akses Layanan dan Edukasi Jadi Tantangan
adainfo.id – Kasus tuberkulosis (TBC) di Indonesia masih menunjukkan angka tinggi dengan estimasi mencapai 1.090.000 kasus dan 125.000 kematian setiap tahun, menjadikan penyakit ini sebagai salah satu ancaman kesehatan paling serius di Indonesia.
Angka tersebut menempatkan Indonesia pada posisi kedua di dunia dalam jumlah kasus TBC, sekaligus mencerminkan tantangan besar dalam upaya pengendalian penyakit menular tersebut.
Tingkat kematian akibat TBC bahkan diperkirakan mencapai 12 hingga 14 orang setiap jam.
Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus Direktur Zero TB Yogyakarta, Rina Triasih, menilai tingginya angka kematian akibat TBC seharusnya menjadi alarm bagi masyarakat untuk lebih waspada.
“Ini sama bahayanya dengan COVID. Namun, karena TBC sudah ada sejak lama dan menyebabkan korban jiwa secara perlahan, penyakit ini kerap dianggap kurang berbahaya,” paparnya dikutip Senin (13/04/2026).
Menurutnya, persepsi masyarakat yang cenderung meremehkan TBC menjadi salah satu faktor yang menghambat penanganan penyakit ini.
Padahal, dampak yang ditimbulkan tidak kalah serius dibandingkan penyakit menular lainnya.
Tingginya Kasus Cerminkan Deteksi yang Meningkat
Rina menjelaskan bahwa peningkatan jumlah kasus yang tercatat dalam beberapa waktu terakhir tidak sepenuhnya menunjukkan lonjakan penularan, tetapi juga mencerminkan membaiknya sistem deteksi.
“Peningkatan angka kasus tersebut juga dapat mencerminkan semakin membaiknya upaya penemuan kasus yang sebelumnya belum terdeteksi,” tuturnya
Upaya penemuan kasus secara aktif dinilai penting dalam mengidentifikasi penderita yang selama ini tidak terjangkau layanan kesehatan.
Dengan deteksi yang lebih baik, penanganan dapat dilakukan lebih cepat sehingga risiko penularan dapat ditekan.
Selain itu, salah satu tantangan utama dalam pengendalian TBC adalah karakteristik penyakit yang tidak langsung menunjukkan gejala setelah seseorang terinfeksi.
Rina menyebutkan bahwa gejala TBC baru muncul dalam rentang waktu 4 hingga 12 minggu setelah paparan kuman.
“Kondisi inilah yang kemudian memungkinkan kasus tidak terdeteksi sejak dini, sehingga meningkatkan risiko keterlambatan penanganan dan penularan di masyarakat,” ungkapnya.
Kondisi ini membuat banyak kasus baru diketahui ketika penyakit sudah memasuki tahap yang lebih serius.
Akibatnya, proses pengobatan menjadi lebih kompleks dan potensi penularan kepada orang lain semakin besar.
Stigma dan Akses Layanan Jadi Tantangan
Selain faktor medis, tantangan lain yang dihadapi dalam pengendalian TBC adalah stigma sosial yang masih melekat di masyarakat.
Tidak sedikit penderita yang enggan memeriksakan diri karena takut mendapatkan label negatif.
Kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan atau dikucilkan dari lingkungan sosial membuat sebagian orang memilih untuk menyembunyikan kondisi mereka.
Hal ini justru memperburuk situasi karena memperbesar risiko penularan.
“Padahal, keterlambatan diagnosis justru meningkatkan risiko penularan dan memperburuk kondisi pasien,” jelasnya.
Di sisi lain, kondisi geografis Indonesia yang luas juga menyebabkan ketimpangan akses layanan kesehatan.
Beberapa wilayah masih menghadapi keterbatasan fasilitas dan tenaga medis, sehingga penanganan TBC belum merata.
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Rina menekankan pentingnya pendekatan komprehensif melalui strategi search, treat, and prevent.
Pendekatan ini mencakup penemuan kasus secara aktif, pengobatan yang tepat, serta upaya pencegahan bagi kelompok berisiko.
“Upaya ini tidak akan tercapai jika hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Diperlukan dukungan dan keterlibatan berbagai sektor, termasuk pemerintah, swasta, dan masyarakat, agar pengendalian TBC dapat berjalan secara optimal,” bebernya.
Ia juga mengapresiasi langkah yang telah dilakukan pemerintah dalam meningkatkan deteksi kasus, salah satunya melalui penerapan active case finding dengan memanfaatkan teknologi rontgen portable.
“Saya kira ini inovasi yang sangat bagus dalam menjangkau kasus-kasus TBC yang sebelumnya tidak terdeteksi,” terangnya.
Selain itu, pemerintah juga tengah mengembangkan layanan skrining terpadu melalui konsep One Stop Service yang mengintegrasikan pemeriksaan TBC dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Inovasi ini diharapkan mampu mempercepat proses diagnosis dan penanganan pasien.
Peran Masyarakat dalam Eliminasi TBC
Peran masyarakat dinilai sangat penting dalam mendukung upaya eliminasi TBC di Indonesia.
Kesadaran untuk mengenali gejala awal, seperti batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, menjadi langkah awal dalam pencegahan.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak ragu memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala tersebut.
Edukasi mengenai TBC sebagai penyakit yang dapat disembuhkan perlu terus disosialisasikan.
Selain itu, pemahaman bahwa TBC bukan penyakit keturunan juga menjadi hal penting untuk mengurangi stigma yang berkembang di masyarakat.
Dengan meningkatnya kesadaran dan partisipasi publik, upaya pengendalian TBC diharapkan dapat berjalan lebih efektif.












