Hantavirus Mengintai dari Debu Terkontaminasi, Ini Imbauan untuk Warga Depok
adainfo.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran hantavirus.
Kepala Dinkes Kota Depok, Devi Maryori mengatakan hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus, terutama dari urine, feses, maupun air liur yang mencemari lingkungan sekitar.
“Penularan hantavirus umumnya berasal dari urine, feses, atau air liur tikus yang mengontaminasi debu dan kemudian terhirup oleh manusia,” tutur Devi dikutip, Kamis (14/05/2026).
Kasus hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah virus tersebut terdeteksi di kapal pesiar ekspedisi MV Hondius milik Oceanwide Expeditions pada awal April 2026 lalu.
Kondisi itu menyebabkan sejumlah penumpang terinfeksi dan memicu kewaspadaan kesehatan internasional terhadap penyebaran penyakit zoonosis tersebut.
Debu Terkontaminasi Jadi Media Penularan
Devi menjelaskan penularan hantavirus tidak hanya terjadi melalui kontak langsung dengan tikus, tetapi juga dapat menyebar lewat partikel debu yang telah terkontaminasi.
Debu dari area lembap, gudang, loteng rumah, hingga tempat yang jarang dibersihkan berpotensi menjadi media penyebaran virus apabila terhirup manusia.
Karena itu, masyarakat diimbau menggunakan masker saat membersihkan area yang berdebu atau kotor untuk mengurangi risiko paparan virus.
“Waspadai debu yang terkontaminasi. Saat membersihkan area berdebu atau kotor, gunakan masker agar tidak menghirup partikel yang mungkin mengandung virus,” paparnya.
Selain itu, warga juga diminta menggunakan alas kaki ketika beraktivitas di lokasi yang berpotensi tercemar urine maupun kotoran tikus.
Menurutnya, lingkungan dengan sanitasi buruk menjadi habitat ideal bagi tikus berkembang biak sehingga meningkatkan potensi penyebaran penyakit.
Sanitasi Lingkungan Jadi Kunci Pencegahan
Dinkes Depok meminta masyarakat rutin menjaga kebersihan lingkungan rumah dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk meminimalisir risiko penularan hantavirus.
Langkah sederhana seperti membersihkan saluran air, menutup tempat penyimpanan makanan, dan membuang sampah secara rutin dinilai efektif mengurangi populasi tikus di lingkungan permukiman.
Selain menjaga kebersihan rumah, masyarakat juga diimbau tidak membiarkan tumpukan barang atau area lembap yang dapat menjadi sarang tikus.
“Menjaga sanitasi yang baik dapat menekan risiko penyebaran virus ini,” tukasnya.
Pemerintah daerah bersama dinas kesehatan terus melakukan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya pengendalian sanitasi lingkungan guna mencegah penyebaran penyakit berbasis hewan pengerat.
Kasus Hantavirus di Indonesia Masih Dipantau
Kemenjes mencatat sebanyak 23 kasus hantavirus ditemukan di Indonesia sejak tahun 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 pasien dinyatakan sembuh setelah menjalani penanganan medis, sementara tiga pasien lainnya meninggal dunia.
Hantavirus sendiri dikenal sebagai virus yang dapat menyebabkan gangguan serius pada sistem pernapasan dan ginjal manusia.
Gejala awal penyakit ini umumnya menyerupai flu seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, mual, hingga sesak napas.
Dalam kondisi tertentu, infeksi hantavirus dapat berkembang menjadi lebih parah apabila tidak segera ditangani secara medis.
Kasus hantavirus yang muncul di kapal ekspedisi MV Hondius beberapa waktu lalu membuat sejumlah negara meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran virus tersebut.
Meski jumlah kasus di Indonesia masih tergolong rendah, pemerintah tetap memperkuat pengawasan dan edukasi kepada masyarakat agar risiko penyebaran dapat ditekan sejak dini.
Dinkes Depok berharap masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus untuk mencegah munculnya kasus hantavirus di wilayah permukiman.












