Penurunan Populasi Kuda Laut Jadi Alarm Kondisi Laut Indonesia
adainfo.id – Kekayaan hayati laut Indonesia kembali menjadi perhatian dunia riset setelah populasi kuda laut dinilai menghadapi ancaman serius akibat pencemaran dan penangkapan yang tidak terkendali.
Kondisi tersebut mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat riset konservasi berbasis sains untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut nasional.
BRIN menegaskan komitmennya dalam memperkuat perlindungan satwa laut melalui riset berbasis sains dan pengelolaan berkelanjutan.
Salah satu fokus utama yang kini menjadi perhatian adalah upaya konservasi kuda laut sebagai bagian penting dari kekayaan keanekaragaman hayati maritim Indonesia.
Indonesia sendiri diketahui menjadi negara dengan kekayaan biodiversitas laut terbesar kedua di dunia, termasuk memiliki sedikitnya 13 spesies kuda laut yang hidup di berbagai wilayah perairan nasional.
Selain dikenal memiliki bentuk unik, kuda laut juga menjadi salah satu spesies laut yang menarik perhatian peneliti karena karakter biologisnya yang tidak biasa.
Mulai dari kemampuan kamuflase tinggi hingga sistem reproduksi unik, di mana pejantan kuda laut berperan mengerami telur hingga menetas.
BRIN Sebut Kuda Laut Jadi Penanda Kesehatan Laut
Kepala Pusat Riset Sistem Biota (PRSB) BRIN, Decky Indrawan Junaedi, mengatakan kuda laut memiliki peran ekologis yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan laut.
Menurutnya, keberadaan kuda laut dapat menjadi indikator alami terhadap kualitas ekosistem perairan.
“Kuda laut ini adalah species indicator, karena dia sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air dan sangat sensitif terhadap pencemaran. Sehingga, ada atau tidaknya kuda laut ini menjadi indikator penurunan kualitas lingkungan habitatnya,” papar Decky dikutip, Kamis (21/05/2026).
Ia menjelaskan, kuda laut termasuk satwa laut yang sangat rentan terhadap perubahan kondisi lingkungan, terutama pencemaran dan kerusakan habitat pesisir.
Karena itu, penurunan populasi kuda laut dinilai dapat menjadi sinyal awal terganggunya kualitas lingkungan laut di suatu wilayah.
Selain berfungsi sebagai indikator kesehatan perairan, kuda laut juga memiliki peran penting dalam rantai makanan laut.
Satwa ini mengonsumsi krustasea kecil dan plankton sehingga membantu menjaga keseimbangan populasi organisme di perairan.
Menurut Decky, menjaga populasi kuda laut secara tidak langsung berarti ikut menjaga stabilitas ekosistem laut secara lebih luas.
Penangkapan Liar Jadi Ancaman Populasi Kuda Laut
BRIN menilai salah satu tantangan terbesar dalam perlindungan kuda laut saat ini adalah praktik penangkapan langsung dari alam yang tidak terkendali.
Karena memiliki nilai ekonomi dan bentuk unik, kuda laut kerap diperdagangkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari hiasan hingga bahan pengobatan tradisional.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengancam kelestarian populasi kuda laut di alam apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan yang tepat.
Karena itu, BRIN mendorong agar pemanfaatan kuda laut mulai diarahkan ke pendekatan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Jangan hanya pemanenan langsung di alam, pemanfaatan dan pengelolaan harus diarahkan ke yang lebih berkelanjutan. Opsi-opsi lain perlu didorong, misalnya ke aspek wisata bahari, fotografi, dan sebagainya,” ungkapnya.
Menurut Decky, konsep konservasi tidak hanya berarti melindungi satwa secara pasif, tetapi juga memastikan pemanfaatannya tetap dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa merusak populasi di alam.
“Ketika kita bicara konservasi, BRIN melihatnya tentu saja bukan hanya sekadar perlindungan, tetapi kita harus bisa memanfaatkannya secara berkelanjutan,” jelasnya.
BRIN Gandeng Peneliti Kanada dan Jepang
Untuk memperkuat riset dan pengelolaan satwa laut, BRIN juga aktif membangun kerja sama internasional dengan berbagai lembaga penelitian dunia.
Salah satu kemitraan yang sedang berjalan dilakukan bersama University of British Columbia melalui Project Seahorse.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan penelitian jangka panjang terkait ekologi dan konservasi kuda laut di Indonesia.
Selain itu, BRIN juga tengah menjalankan kerja sama penelitian dengan Ocean Solution Technology (OST) Jepang terkait pemodelan aktivitas nelayan dan daerah tangkapan ikan di sekitar Selat Malaka.
Penelitian tersebut menggunakan alat perekam khusus untuk mendukung pengelolaan sumber daya laut berbasis data ilmiah.
BRIN juga menyatakan kesiapan membantu pemerintah, khususnya sektor perikanan, dalam penyediaan data stok ikan guna mendukung kebijakan perikanan tangkap nasional yang lebih berkelanjutan.
Decky berharap penguatan riset kelautan tidak hanya berfokus pada perlindungan biodiversitas, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi pembangunan ekonomi nasional.
“Saya pribadi percaya, solusi nasional itu harusnya datang dari kelautan. Karena dua per tiga wilayah kita adalah laut, sehingga solusi sebagian besar seharusnya berasal atau datang dari laut,” tukasnya.
Melalui penguatan riset dan kolaborasi internasional, BRIN berharap kekayaan hayati laut Indonesia dapat terus terjaga sekaligus dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat dan generasi mendatang.












