Ancaman Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu, Dari Rusak Sungai hingga Risiko Kesehatan

ARY
Suasana pencarian ikan sapu-sapu di kawasan Kali Bundaran HI, Jakarta, beberapa waktu lalu. (Foto: Instagram/dkpkp.jakarta)

adainfo.id – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyampaikan bahwa keberadaan ikan sapu-sapu di perairan Indonesia semakin mengkhawatirkan karena berpotensi merusak ekosistem sekaligus membawa risiko kesehatan bagi manusia.

Fenomena meningkatnya populasi ikan sapu-sapu di berbagai wilayah perairan Indonesia menjadi perhatian serius para peneliti.

Spesies ini diketahui bukan berasal dari habitat asli Indonesia, melainkan merupakan ikan introduksi yang kini berkembang pesat dan sulit dikendalikan.

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Gema Wahyu Dewantoro, mengungkapkan bahwa ikan sapu-sapu telah masuk dalam kategori spesies invasif yang berdampak negatif terhadap lingkungan.

“Ikan sapu-sapu merupakan ikan introduksi yang bersifat invasif sesuai Permen KP 19 tahun 2020. Ikan sapu-sapu sudah termasuk mencemari perairan karena sifatnya merusak dan reproduksinya tinggi, merusak jaring nelayan, melubangi pinggiran sungai atau danau,” papar Gema dikutip Rabu (15/04/2026).

Keberadaan ikan sapu-sapu di berbagai sungai dan danau di Indonesia tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya nelayan.

Dengan kemampuan reproduksi yang tinggi, ikan ini mampu berkembang dalam jumlah besar dalam waktu relatif singkat.

Hal ini menyebabkan dominasi populasi yang dapat menggeser keberadaan ikan lokal yang sebelumnya hidup di habitat tersebut.

Meski bukan predator aktif, ikan sapu-sapu memiliki karakteristik yang membuatnya unggul dalam bertahan hidup.

Mereka mampu memanfaatkan sumber makanan di dasar perairan dan memiliki daya tahan tinggi terhadap kondisi lingkungan yang buruk.

Akibatnya, ikan lokal yang memiliki kebutuhan habitat lebih spesifik menjadi terdesak dan mengalami penurunan populasi.

Kondisi ini berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.

Risiko Kerusakan Infrastruktur dan Lingkungan

Selain mengganggu keseimbangan ekosistem, ikan sapu-sapu juga diketahui memiliki kebiasaan yang merusak lingkungan fisik perairan.

Salah satu dampak yang sering terjadi adalah kerusakan pada tepi sungai atau danau akibat aktivitas ikan ini.

Dengan perilaku menggali atau melubangi area pinggiran perairan, ikan sapu-sapu dapat menyebabkan erosi yang berujung pada kerusakan struktur alami maupun buatan.

Tidak hanya itu, aktivitas ikan ini juga berdampak pada alat tangkap nelayan.

Jaring yang digunakan untuk menangkap ikan kerap rusak akibat tersangkut atau tergores oleh tubuh ikan sapu-sapu yang keras.

Kondisi ini tentu merugikan nelayan secara ekonomi, karena mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memperbaiki atau mengganti alat tangkap yang rusak.

Selain dampak lingkungan, ikan sapu-sapu juga membawa potensi risiko kesehatan bagi manusia.

Penelitian menunjukkan bahwa ikan ini berpotensi mengandung logam berat yang dapat berbahaya jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

“Dagingnya diduga mengandung logam berat sehingga dapat berdampak negatif apabila dikonsumsi dalam jangka panjang,” jelasnya.

Paparan logam berat dalam tubuh manusia dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari kerusakan organ hingga risiko penyakit kronis lainnya.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam mengonsumsi ikan yang berasal dari perairan yang telah terkontaminasi, termasuk ikan sapu-sapu.

Populasi Melonjak, Perlu Pengendalian Intensif

Peneliti BRIN lainnya, Haryono, menilai bahwa langkah penangkapan ikan tersebut yang dilakukan di beberapa daerah sudah tepat sebagai upaya pengendalian populasi.

Menurutnya, saat ini populasi ikan tersebut telah melimpah dan mengganggu keseimbangan ekosistem perairan.

“Upaya seperti ini patut dicontoh untuk wilayah lain, bukan hanya penangkapan ikan sapu-sapu tetapi juga ikan invasif lainnya seperti ikan red devil,” bebernya.

Haryono menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu merupakan spesies asal Amerika Selatan yang kini telah menyebar luas di Indonesia.

Penyebaran tersebut tidak terlepas dari aktivitas manusia, baik disengaja maupun tidak.

Spesies ini bahkan telah dikategorikan sebagai ikan jenis asing invasif (JAI) karena kemampuannya mengancam keberadaan ikan lokal dan merusak habitat alami.

“Dampaknya terhadap manusia bersifat secara tidak langsung yaitu bila dikonsumsi akan membahayakan kesehatan manusia, karena kemungkinan mengandung bahan-bahan cemaran seperti logam berat,” ungkapnya.

Strategi Pengendalian dan Peran Masyarakat

Dalam upaya mengatasi persoalan ini, para peneliti menyebut terdapat beberapa metode pengendalian yang dapat dilakukan, mulai dari pendekatan biologi, kimiawi, hingga manual.

Namun, metode manual melalui penangkapan dinilai sebagai cara paling aman dan efektif untuk menekan populasi ikan ini.

“Agar dapat terkendali populasinya perlu dilakukan penangkapan secara intensif dan periodik, sehingga populasinya dapat ditekan dan semakin lama akan terkikis habis. Hal ini perlu adanya edukasi dan melibatkan semua pihak terkait,” paparnya.

Pendekatan ini dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan metode lain yang berpotensi menimbulkan dampak tambahan terhadap ekosistem.

Selain itu, keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam keberhasilan pengendalian populasi ikan invasif.

Edukasi mengenai dampak adanya ikan tersebut serta pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem perlu terus dilakukan.

Kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat diharapkan mampu menekan penyebaran ikan sapu-sapu.

Sekaligus juga untuk menjaga kelestarian ekosistem perairan Indonesia yang semakin terancam oleh keberadaan spesies invasif tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *