Didominasi Styrofoam, Tumpukan Sampah Menyumbat Aliran Kali di Depok
adainfo.id – Tumpukan sampah di Jalan Raya Pramuka, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok kembali menjadi sorotan warga setelah limbah yang terbawa arus air tersangkut di jembatan kawasan tersebut pada Jumat (01/05/2026) sore.
Kondisi ini memicu keresahan masyarakat karena selain mengganggu estetika lingkungan, juga berpotensi memperparah risiko banjir.
Sampah yang menumpuk terlihat didominasi oleh limbah plastik dan styrofoam.
Material ringan tersebut terbawa derasnya aliran air saat hujan lebat dan banjir yang melanda beberapa hari terakhir.
Akibatnya, sampah tersangkut di struktur jembatan dan membentuk tumpukan yang cukup besar.
Warga sekitar mengaku kondisi ini bukan pertama kali terjadi. Fenomena serupa kerap muncul terutama saat musim hujan, ketika debit air meningkat dan membawa berbagai jenis limbah dari wilayah hulu ke hilir.
Sampah Datang Mendadak Usai Banjir
Kurnia, istri dari Ketua RT 03/RW 09 yang juga dikenal sebagai kader lingkungan setempat, menjelaskan bahwa penumpukan sampah kali ini terjadi dalam waktu singkat dan dipicu oleh banjir.
“Ini belum lama, sebelumnya ada sampah juga tapi sudah diangkat oleh petugas menggunakan mobil besar,” ujar Kurnia saat dikonfirmasi Jum’at (01/05/2026).
Menurutnya, setelah hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut beberapa hari terakhir, sampah kembali muncul di titik yang sama.
Ia menilai aliran air dari wilayah hulu menjadi faktor utama yang membawa limbah hingga tersangkut di jembatan Villa Santika.
“Sekarang muncul lagi setelah banjir kemarin. Banyak styrofoam terbawa arus dari hulu dan akhirnya tersangkut di jembatan sini,” jelasnya.
Kurnia menambahkan bahwa kondisi tersebut semakin terlihat jelas karena volume sampah yang cukup besar dan terkonsentrasi di satu titik.
Hal ini membuat aliran air menjadi terhambat dan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi warga.
Cuaca Ekstrem Perparah Kondisi Lingkungan
Perubahan cuaca yang tidak menentu dalam beberapa hari terakhir turut memperparah situasi di lapangan.
Kurnia menyebut pola cuaca yang ekstrem menjadi salah satu penyebab meningkatnya volume sampah di aliran kali.
“Di sini hampir seminggu ini pagi sampai siang panas, lalu tiba-tiba sore hujan deras. Sampah dari atas terbawa arus dan menumpuk di sini,” kata Kurnia.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana perubahan pola cuaca dapat berdampak langsung terhadap kondisi lingkungan, khususnya dalam hal pengelolaan sampah.
Saat hujan deras turun secara tiba-tiba, aliran air menjadi lebih deras dan membawa material yang sebelumnya tertahan di bagian hulu.
Akibatnya, sampah yang semula tersebar di berbagai titik akhirnya berkumpul dan tersangkut di lokasi tertentu seperti jembatan.
Hal ini tidak hanya menimbulkan penumpukan, tetapi juga mempercepat terjadinya penyumbatan aliran air.
Warga khawatir jika kondisi ini terus dibiarkan, maka potensi banjir akan semakin besar.
Apalagi, kawasan Pancoran Mas termasuk wilayah yang kerap terdampak banjir saat curah hujan tinggi.
Bau Menyengat dan Ancaman Banjir
Selain mengganggu pemandangan, hal ini juga berpotensi menimbulkan bau tidak sedap yang cukup menyengat.
Hal ini menjadi keluhan utama warga yang tinggal di sekitar lokasi. Bau yang muncul berasal dari sampah organik yang tercampur dengan limbah plastik dan styrofoam.
Dalam kondisi lembap akibat hujan, proses pembusukan berlangsung lebih cepat sehingga aroma tidak sedap semakin terasa.
Di sisi lain, keberadaan sampah yang menumpuk juga menghambat aliran air.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi menyebabkan air meluap dan menggenangi permukiman warga.
Kurnia mengungkapkan bahwa biasanya sampah akan segera diangkut oleh petugas kebersihan. Namun, untuk kondisi saat ini, penanganan belum dilakukan.
“Untuk yang sekarang ini belum diangkut lagi,” tambahnya.
Keterlambatan pengangkutan ini membuat warga semakin khawatir, terutama jika hujan kembali turun dalam intensitas tinggi.
Mereka berharap ada langkah cepat agar tumpukan sampah tidak semakin membesar.
Upaya Warga dan Harapan ke Pemerintah
Di tengah kondisi tersebut, pengurus lingkungan sebenarnya telah berupaya melakukan berbagai langkah pencegahan.
Salah satunya melalui sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, khususnya ke aliran kali.
“Kami terus mengingatkan warga agar tidak buang sampah ke kali,” ujar Kurnia.
Edukasi lingkungan dinilai menjadi kunci penting dalam mengurangi volume sampah yang masuk ke aliran air.
Namun, warga juga menyadari bahwa permasalahan tersebut tidak bisa diselesaikan secara mandiri tanpa dukungan dari pemerintah.
Kurnia berharap adanya peran lebih aktif dari pemerintah dalam menangani persoalan ini, terutama dalam hal pengangkutan rutin dan pengawasan.
“Harapannya ada pengawasan rutin dan pengangkutan sampah secara berkala, supaya tidak menumpuk seperti ini,” katanya.
Selain itu, warga juga menginginkan adanya langkah jangka panjang seperti pengerukan sedimentasi sungai.
Upaya tersebut dinilai penting untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Permasalahan yang terus berulang di kawasan tersebut menunjukkan bahwa isu lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Tidak hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Kesadaran kolektif menjadi kunci agar aliran sungai tetap bersih dan bebas dari tumpukan sampah yang berpotensi menimbulkan bencana.












