Kali Pesanggrahan Meluap, Jembatan Jalan Bandung Depok Tertutup Banjir
adainfo.id – Jembatan di Jalan Bandung, kawasan Cinere, Kota Depok, terendam banjir akibat luapan Kali Pesanggrahan pada Senin (20/04/2026), sehingga akses utama penghubung antara Cinere dan Pondok Cabe, Tangerang Selatan, terputus total.
Genangan air yang mencapai lebih dari satu meter membuat kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas, memaksa pengguna jalan mencari jalur alternatif yang lebih jauh.
Peristiwa ini terjadi setelah curah hujan tinggi mengguyur wilayah hulu sungai, khususnya di kawasan Kabupaten Bogor, yang berdampak langsung pada peningkatan debit air di aliran sungai tersebut.
Air yang meluap dari badan sungai dengan cepat menutupi permukaan jembatan, menciptakan kondisi berbahaya bagi pengguna jalan.
Sejumlah kendaraan yang mencoba melintas terpaksa berbalik arah karena ketinggian air yang tidak memungkinkan untuk dilalui.
Selain itu, sebuah mobil berwarna putih juga sempat terjebak dalam banjir tersebut.
Kondisi ini memperlihatkan kerentanan infrastruktur terhadap peningkatan debit air saat musim hujan.
Hujan Deras di Hulu Jadi Pemicu
Warga setempat, Sutikno Hadi Prayitno (48), menyebut bahwa banjir yang merendam jembatan dipicu oleh hujan deras di wilayah hulu.
“Kalau banjir sekarang, ini dari kemarin karena hujan, sekitar Isya. Kebetulan saya berjalan dari Cinere ke daerah Citayam. Dari masuk simpangan Citayam itu hujannya nggak kira-kira, deres banget, sampai ke tempat tujuan di Stasiun Citayam juga lumayan lama,” ujar Sutikno.
Curah hujan tinggi di kawasan hulu, seperti Kabupaten Bogor, diketahui kerap berdampak pada peningkatan debit air di wilayah hilir, termasuk Depok.
Fenomena ini menunjukkan keterkaitan antara kondisi cuaca di berbagai wilayah dalam satu aliran sungai.
Jembatan Jalan Bandung dikenal sebagai jalur alternatif yang cukup vital bagi masyarakat.
Sutikno menjelaskan bahwa jalur tersebut sering digunakan karena lebih cepat dan relatif bebas kemacetan dibandingkan rute lain.
“Jalur ini lumayan padat, karena terobosan satu-satunya ini, kalau muter dari sini muternya ke Cinere Mas, jauh,” ungkapnya.
Saat banjir terjadi, pengguna jalan harus memutar melalui jalur lain yang lebih panjang, sehingga waktu tempuh bertambah signifikan.
“Lewat sini itu kan lebih cepat, yang jelas di sini tuh nggak macet. Kalau lewat sana, lewat Jalan Cinere, mal, itu kalau pagi macetnya ampun-ampunan. Itu sampai orang lewat sini itu biasanya arah Cinere, arah Depok,” ungkapnya.
Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas harian masyarakat, termasuk pekerja dan pelajar yang bergantung pada jalur tersebut.
Ketinggian Air Capai Lebih dari Satu Meter
Saat banjir melanda, ketinggian air di atas jembatan dilaporkan mencapai lebih dari satu meter.
Kondisi tersebut membuat jalur tidak hanya sulit dilalui, tetapi juga berisiko bagi keselamatan pengguna jalan.
Sutikno menyebut bahwa ketika air sudah mencapai ketinggian tersebut, kendaraan tidak dapat melintas sama sekali.
“Lewat sini itu kan lebih cepat, yang jelas di sini tuh nggak macet. Kalau lewat sana, lewat Jalan Cinere, mal, itu kalau pagi macetnya ampun-ampunan,” ujarnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa infrastruktur yang ada belum mampu mengantisipasi peningkatan debit air secara optimal.
Warga pun berharap adanya solusi jangka panjang untuk mengatasi permasalahan banjir yang terus berulang di lokasi tersebut.
Salah satu usulan yang muncul adalah peninggian jembatan agar tidak mudah terendam saat debit air meningkat.
“Kita sih minta jembatannya untuk ditinggiin ya. Ini sebetulnya janji dulu sudah lama, bukan hanya sekarang,” bebernya.
Permintaan ini mencerminkan harapan masyarakat terhadap perbaikan infrastruktur yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan.
Banjir Berulang Jadi Sorotan
Banjir di kawasan ini bukanlah kejadian pertama, melainkan telah berulang dalam beberapa waktu terakhir.
Posisi jembatan yang relatif rendah menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan mudahnya air meluap ke permukaan jalan.
Selain itu, kondisi aliran sungai yang belum sepenuhnya optimal juga turut memperparah situasi.
Perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase dan pengelolaan sungai untuk mengurangi risiko banjir di masa mendatang.
Hingga pukul 11.45 WIB tadi, kondisi jembatan masih terendam dan belum dapat dilalui kendaraan.
Debit air di Kali Pesanggrahan masih tinggi, sehingga pengguna jalan diimbau untuk mencari jalur alternatif.
Situasi ini menunjukkan bahwa dampak hujan di wilayah hulu masih dirasakan hingga beberapa jam setelah curah hujan berhenti.
Pemantauan terus dilakukan untuk memastikan kondisi air kembali normal dan akses jalan dapat digunakan kembali.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya kesiapan infrastruktur dalam menghadapi perubahan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi di wilayah perkotaan.












