Kenaikan BBM dan Rupiah Melemah Jadi Kombinasi Berat bagi Kelas Menengah
adainfo.id – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang terjadi di tengah pelemahan nilai tukar rupiah memunculkan kekhawatiran baru terhadap kondisi ekonomi masyarakat.
Kelompok kelas menengah disebut menjadi pihak yang paling rentan menghadapi tekanan tersebut karena tidak memperoleh berbagai bentuk perlindungan yang selama ini diberikan kepada masyarakat berpenghasilan rendah.
Kondisi ini dinilai berpotensi menggerus daya beli rumah tangga dan memicu penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat kelas menengah apabila tidak diantisipasi melalui kebijakan yang tepat.
Anggota Komisi VI DPR RI, Budi S Kanang, menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi tidak bisa dilepaskan dari situasi ekonomi yang sedang dihadapi masyarakat, termasuk dampak pelemahan rupiah terhadap berbagai kebutuhan konsumsi.
Kelas Menengah Disebut Paling Rentan Terdampak
Menurut Budi, kelompok kelas menengah menjadi lapisan masyarakat yang paling merasakan dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi.
Berbeda dengan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang masih mendapatkan subsidi maupun bantuan pemerintah, kelas menengah harus menanggung sendiri peningkatan biaya hidup yang terjadi.
“Kelas menengah ini yang pasti berdampak. Kalau kelas menengah ke bawah masih ada subsidi, operasi pasar, dan lain sebagainya. Kelas menengah tidak mungkin mendapatkan itu,” tutur Kanang dikutip, Kamis (11/06/2026).
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa kelompok yang selama ini menjadi salah satu motor konsumsi nasional justru menghadapi tekanan ekonomi yang semakin besar.
Selain kenaikan harga BBM nonsubsidi, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga disebut memperberat kondisi ekonomi rumah tangga.
Budi menilai dampak kurs yang terus bergerak melemah tidak hanya dirasakan oleh dunia usaha, tetapi juga langsung memengaruhi harga berbagai kebutuhan masyarakat sehari-hari.
“Dampak daripada dolar yang membumbung tinggi, IHSG yang merosot, ini juga menjadi beban rakyat. Kenyataannya akibat pelemahan rupiah, beberapa kebutuhan konsumsi harian masyarakat juga meningkat,” jelasnya.
Menurutnya, kombinasi antara kenaikan harga energi dan meningkatnya harga barang konsumsi dapat mempersempit ruang belanja masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
DPR Ingatkan Risiko Turunnya Kelas Menengah
Salah satu dampak yang paling dikhawatirkan adalah terjadinya penurunan status ekonomi masyarakat kelas menengah akibat tekanan biaya hidup yang terus meningkat.
Budi memperingatkan bahwa kelompok kelas menengah dapat mengalami penurunan kemampuan ekonomi apabila pendapatan mereka tidak mampu mengimbangi kenaikan berbagai kebutuhan pokok dan biaya operasional sehari-hari.
“Kelas menengah ini akan banyak yang turun menjadi tidak mampu. Dan kalau sudah turun, naik lagi itu susah. Ini yang harus hati-hati,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi pentingnya menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga kelas menengah yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung aktivitas konsumsi nasional.
Politisi Fraksi PDI Perjuangan itu menilai pemerintah perlu melihat persoalan kenaikan BBM nonsubsidi secara lebih komprehensif.
Menurutnya, kebijakan energi tidak hanya berkaitan dengan stabilitas makroekonomi atau kondisi fiskal negara, tetapi juga berdampak langsung terhadap kemampuan masyarakat dalam melakukan konsumsi.
Karena itu, setiap kebijakan yang berkaitan dengan harga energi perlu mempertimbangkan efek berantai terhadap sektor lain, termasuk daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi domestik.
Selain itu, Budi juga menyoroti pentingnya komunikasi publik yang lebih baik terkait kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi.
Ia menilai DPR maupun masyarakat perlu mendapatkan penjelasan yang jelas mengenai dasar pengambilan keputusan serta dampak yang mungkin timbul dari kebijakan tersebut.
Konsumsi Rumah Tangga Jadi Penopang Ekonomi
Budi mengingatkan bahwa konsumsi rumah tangga selama ini menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Apabila daya beli masyarakat terus mengalami penurunan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga, tetapi juga akan menjalar ke berbagai sektor usaha yang bergantung pada aktivitas konsumsi.
Mulai dari perdagangan, jasa, transportasi, hingga sektor UMKM berpotensi terdampak apabila masyarakat mulai mengurangi pengeluaran akibat tekanan ekonomi.
“Kita harus menjaga agar daya beli tidak terus tergerus. Kalau konsumsi rumah tangga melemah, dampaknya akan menjalar ke banyak sektor,” tandasnya.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi belakangan menjadi perhatian publik karena terjadi saat masyarakat masih menghadapi berbagai tekanan ekonomi lainnya.
Bagi sebagian kalangan, khususnya pekerja, pelaku usaha kecil, hingga pengguna kendaraan pribadi yang mengandalkan BBM nonsubsidi, penyesuaian harga tersebut berdampak langsung terhadap pengeluaran bulanan.
Di tengah kondisi ekonomi global yang masih bergejolak, berbagai pihak berharap pemerintah dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan penyesuaian harga energi dan perlindungan terhadap daya beli masyarakat.
Terutama bagi kelompok kelas menengah yang selama ini sering berada di posisi rentan karena tidak masuk dalam kategori penerima bantuan sosial, tetapi juga menghadapi tekanan biaya hidup yang terus meningkat.












