Puluhan Warga Depok Tertipu Bisnis Minyak Goreng Murah, Kerugian Capai Rp10 Miliar
adainfo.id – Sebanyak 50 warga Kota Depok diduga menjadi korban penipuan berkedok bisnis minyak goreng murah dengan total kerugian mencapai Rp10 miliar.
Dua orang terduga pelaku berinisial SM dan RAS dilaporkan ke Polsek Cimanggis setelah diduga membawa kabur uang korban melalui skema penjualan minyak goreng sistem Pre-Order (PO).
Kasus dugaan penipuan minyak goreng murah ini bermula pada September 2025.
Saat itu, para pelaku menawarkan berbagai merek minyak goreng kemasan dengan harga lebih rendah dibanding pasaran.
Untuk mengikuti pembelian, konsumen diwajibkan melakukan pembayaran penuh di muka.
Pelaku kemudian menjanjikan barang akan dikirim dalam waktu tujuh hari kerja.
Skema tersebut awalnya berjalan lancar sehingga membuat banyak korban percaya dan mulai melakukan pembelian dalam jumlah besar.
Salah satu korban bernama Via mengungkapkan, selama dua bulan pertama transaksi tidak mengalami kendala. Barang pesanan disebut selalu dikirim sesuai kesepakatan.
“Karena lancar, konsumen makin yakin. Banyak yang akhirnya menambah kapasitas pembelian dalam jumlah besar, dan pelaku dengan percaya diri menyanggupi itu,” ujar Via saat dikonfirmasi pada Kamis (14/05/2026).
Pengiriman Mulai Bermasalah
Memasuki pertengahan November 2025, pengiriman minyak goreng mulai mengalami keterlambatan.
Barang yang sebelumnya datang sesuai jadwal perlahan tidak lagi dikirim tepat waktu. Kondisi itu membuat para korban mulai curiga.
Sejumlah warga bahkan mendatangi gudang milik terduga pelaku untuk meminta kepastian pengiriman maupun pengembalian dana.
Namun pelaku disebut memberikan berbagai alasan untuk menenangkan konsumen.
Momen Hari Raya Natal dan Tahun Baru atau Nataru dijadikan alasan keterlambatan distribusi minyak goreng.
Pelaku berdalih stok minyak goreng sedang langka dan harga pasar mengalami kenaikan sehingga pengiriman tertunda.
Meski demikian, hingga waktu terus berjalan, pesanan minyak goreng para korban tidak pernah dikirimkan.
Situasi tersebut membuat keresahan di tengah masyarakat semakin meningkat karena nilai transaksi yang telah disetorkan mencapai miliaran rupiah.
Somasi Korban Tak Digubris
Korban sempat mencoba menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni melayangkan surat somasi kepada para terduga pelaku.
Namun upaya tersebut disebut tidak membuahkan hasil. Menurut Via, para pelaku justru menganggap somasi tersebut tidak sah.
“Mereka malah berdalih surat somasi tidak bisa sembarangan dibuat, padahal kami sudah konsultasi hukum sebelumnya,” keluh Via.
Korban juga mengaku semakin kesulitan menghubungi pelaku setelah masalah mulai mencuat.
Komunikasi yang sebelumnya berjalan lancar perlahan terputus. Kondisi tersebut membuat para korban mulai yakin telah menjadi korban dugaan penipuan berkedok bisnis sembako murah.
Janji Tinggal Janji
Pada Januari 2026, sempat dilakukan musyawarah antara korban dan pihak terduga pelaku.
Dalam pertemuan tersebut, disebutkan adanya kesepakatan baru terkait penyelesaian pengiriman minyak goreng.
Korban berharap persoalan bisa diselesaikan tanpa proses hukum. Namun hingga batas waktu yang dijanjikan, tidak ada satu pun minyak goreng yang dikirimkan kepada konsumen.
Kerugian para korban pun disebut terus membengkak. Total kerugian diperkirakan mencapai Rp10 miliar dari transaksi puluhan warga yang mengikuti program pembelian minyak goreng tersebut.
Sebagian korban diketahui membeli dalam jumlah besar dengan harapan mendapatkan keuntungan dari penjualan kembali minyak goreng ke pasaran.
Namun uang yang telah disetorkan justru diduga dibawa kabur oleh para pelaku.
Sudah Dilaporkan ke Pihak Kepolisian
Merasa tidak ada itikad baik dari para pelaku, warga akhirnya resmi melaporkan kasus tersebut ke Polsek Cimanggis.
Laporan polisi tercatat dengan nomor LP/B/55/II/2026/SPKT/SEK CIMANGGIS/POLRES METRO DEPOK/POLDA METRO JAYA tertanggal 11 Februari 2026.
Setelah laporan diterima, polisi mulai melakukan penyelidikan terkait dugaan penipuan minyak goreng murah tersebut.
Korban juga menduga para pelaku telah merencanakan pelarian sebelum laporan dibuat.
“Sebelum kami lapor, diduga pelaku sengaja menjual ponsel miliknya agar keberadaannya tidak terlacak,” tambah Via.
Hingga berita ini diturunkan, SM dan RAS masih belum berhasil ditemukan.
Polisi masih melakukan penelusuran untuk melacak keberadaan kedua terduga pelaku.
Kasus dugaan penipuan minyak goreng murah di Kota Depok ini kini menjadi perhatian warga karena jumlah kerugian yang sangat besar dan melibatkan puluhan korban.
Warga berharap aparat kepolisian dapat segera menangkap para pelaku serta membantu mengembalikan hak-hak korban yang hingga kini belum mendapatkan kepastian.












