Drainase Tua Diduga Jadi Pemicu Longsor Tebing Ciliwung di Depok, 8 Rumah Terdampak

AZL
Kondisi rumah warga terdampak longsor tebing di bantaran Sungai Ciliwung, Kelurahan Pondok Cina, Kota Depok. (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Sedikitnya delapan rumah warga terdampak longsor tebing di bantaran Sungai Ciliwung yang terjadi di Jalan Haji M. Tohir, RT 004 RW 01, Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok.

Warga menduga ambrolnya tebing setinggi enam hingga tujuh meter tersebut dipicu kondisi drainase yang sudah tua dan minim perawatan sehingga tidak mampu menampung debit air saat hujan deras.

Peristiwa yang terjadi pada Rabu (27/05/2026) itu menyebabkan kerusakan cukup serius pada sejumlah bangunan yang berada di sekitar lokasi longsor. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Warga mengaku khawatir longsor susulan dapat terjadi apabila tidak segera dilakukan penanganan permanen terhadap sistem drainase dan struktur tebing yang mengalami kerusakan.

Drainase Tua Diduga Jadi Pemicu Longsor

Warga setempat menilai akar permasalahan berasal dari saluran drainase yang berada di atas tebing bantaran Sungai Ciliwung.

Saluran tersebut diketahui menjadi jalur pembuangan air dari beberapa ruas jalan di kawasan sekitar.

Menurut warga, drainase yang telah berusia puluhan tahun itu belum pernah mendapatkan perawatan maupun perbaikan secara menyeluruh meskipun memiliki peran penting dalam mengalirkan air saat hujan turun.

Jeffry, salah satu warga yang tinggal di sekitar lokasi, mengatakan kondisi saluran yang sudah tua membuat daya tampung air semakin berkurang.

“Karena bisa dibilang ini comberan (drainase) dibangun dari dulu. Ditambah jadi tampungan tiga jalan lainnya dari depan. Terus saluran ini yang jadi buntutnya belum pernah ada perawatan sama sekali,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Minggu (31/05/2026).

Ia menjelaskan hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut menyebabkan volume air meningkat tajam hingga akhirnya menggerus tanah di sekitar tebing.

Kondisi tersebut berlangsung secara bertahap hingga akhirnya tanah tidak mampu menahan tekanan air dan mengalami longsor.

Delapan Rumah Terdampak

Longsoran tanah yang terjadi mengakibatkan sejumlah rumah warga mengalami kerusakan pada bagian fondasi dan struktur bangunan.

Beberapa rumah dilaporkan mengalami retakan pada dinding, sementara bangunan lainnya terlihat miring akibat tanah penyangga di bawah rumah terkikis oleh aliran air.

Kerusakan paling parah terjadi pada rumah yang berada paling dekat dengan titik longsor karena kehilangan sebagian besar penopang tanah di bagian bawah bangunan.

Meski kondisi kerusakan cukup mengkhawatirkan, warga bersyukur tidak ada penghuni rumah yang menjadi korban saat peristiwa terjadi.

Sebagian warga bahkan masih bertahan di sekitar lokasi sambil menunggu adanya langkah penanganan lebih lanjut dari pemerintah.

Warga Gotong Royong Perbaiki Drainase

Pasca-kejadian, warga bersama-sama melakukan pembersihan material longsor dan memperbaiki saluran air secara swadaya untuk mencegah kerusakan semakin meluas.

Mereka juga memasang pengaman sementara pada beberapa titik yang dianggap rawan guna mengurangi risiko longsor susulan saat hujan turun.

Nandang, warga yang ikut terlibat dalam proses perbaikan, menyebut kerusakan drainase menjadi penyebab utama terjadinya longsor.

“Masalahnya itu karena drainase. Jadi saluran sudah enggak kuat nampung air, terus terkikis jadi membuat rongga dan bikin air lari ke tebing,” katanya.

Menurutnya, aliran air yang tidak lagi tertampung dengan baik menyebabkan terbentuknya rongga di bawah permukaan tanah hingga akhirnya mempercepat proses longsor.

Perbaikan sementara yang dilakukan warga saat ini masih berfokus pada normalisasi saluran agar air tidak kembali menggerus tebing yang tersisa.

Perbaikan Masih Gunakan Dana Pribadi

Hingga kini, upaya perbaikan drainase dan penanganan awal masih mengandalkan gotong royong warga sekitar.

Biaya yang digunakan untuk membeli material perbaikan sementara juga berasal dari dana pribadi masyarakat yang terdampak maupun warga sekitar.

“Sampai sekarang untuk perbaikan drainase sendiri warga masih gotong royong pakai dana pribadi untuk perbaikan,” ujar Nandang.

Kondisi tersebut membuat warga berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah agar penanganan dapat dilakukan secara lebih maksimal dan berkelanjutan.

Mereka menilai perbaikan sementara yang dilakukan secara swadaya belum cukup untuk mengatasi potensi longsor yang masih mengancam kawasan tersebut.

Warga Harapkan Penanganan Permanen

Selain memperbaiki drainase, warga menilai perlu adanya pembangunan struktur penahan tebing yang lebih kuat untuk menjaga kestabilan tanah di bantaran Sungai Ciliwung.

Jeffry mengaku hingga saat ini belum melihat adanya penanganan fisik yang signifikan dari instansi terkait selain kegiatan pengukuran di lokasi kejadian.

“Penanganan ya belum ada, cuma ngukur jarak dari ujung sampai ujung. Bisa dibilang ini masih dari warga saja yang tambal sulam untuk memperbaiki drainase,” katanya.

Menurut warga, kondisi geografis kawasan yang berada di tepi sungai membuat risiko longsor tetap tinggi, terutama saat curah hujan meningkat.

Karena itu, mereka berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Depok bersama dinas terkait segera melakukan penanganan permanen terhadap sistem drainase dan penguatan tebing.

Langkah tersebut dinilai penting untuk melindungi rumah-rumah warga yang berada di sekitar bantaran Sungai Ciliwung sekaligus mencegah kerugian yang lebih besar apabila longsor kembali terjadi pada musim hujan mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *