Ikan Nila Jadi Primadona Ekspor, Pasar Amerika dan Eropa Kepincut
adainfo.id – Ikan nila atau tilapia kini menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan sektor perikanan Indonesia yang mulai mendominasi pasar internasional, khususnya Amerika Serikat dan Eropa.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut tingginya permintaan global terhadap tilapia Indonesia didorong kualitas produk yang dinilai memenuhi standar internasional.
Direktur Pemasaran Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Erwin Dwiyana mengatakan tilapia Indonesia saat ini menjadi komoditas ekspor dengan tingkat penolakan nol di pasar internasional.
“Saat ini tilapia menjadi komoditas ekspor kita yang zero penolakan. Kami melihat standar global sangat penting diperhatikan. Mulai dari persyaratan wajib seperti GMP-SSOP, HACCP, Health Certificate, dan Nomor Registrasi, dan diperkuat sertifikasi buyer-driven seperti GLOBALG.A.P., ISO 22000, SQF, BAP, ASC dan BRC, semuanya dilengkapi oleh seluruh eksportir kita sehingga pasar percaya dengan produk kita,” papar Erwin dalam keterangannya dikutip, Jumat (15/05/2026).
Menurutnya, penerapan standar sertifikasi internasional menjadi faktor utama yang membuat produk tilapia Indonesia diterima luas di pasar global tanpa mengalami penolakan.
Tilapia Dijuluki Chicken of The Sea
Erwin menjelaskan tilapia atau ikan nila memiliki daya tarik tinggi di pasar internasional karena dikenal sebagai Chicken of The Sea.
Julukan tersebut muncul karena daging ikan tilapia memiliki rasa yang ringan atau mild sehingga mudah diolah menjadi berbagai jenis makanan.
Selain itu, kandungan protein tilapia juga tergolong tinggi, yakni mencapai 20 hingga 29 gram per 100 gram sajian.
Ikan ini juga rendah lemak jenuh dan mengandung Omega-3, Omega-6, Omega-9, vitamin B12, serta berbagai mineral yang baik untuk kesehatan.
Kombinasi rasa, tekstur, dan kandungan nutrisi tersebut membuat tilapia semakin diminati konsumen global sebagai alternatif ikan putih berkualitas.
Di sejumlah negara Eropa, tilapia Indonesia bahkan mulai bersaing dengan jenis ikan putih populer lainnya seperti ikan kod dan ikan trout.
Produk Tilapia RI Tembus Pasar Inggris
Keberhasilan ekspor tilapia Indonesia juga ditunjukkan oleh perusahaan Regal Springs Indonesia yang sukses memasok produk ikan nila ke jaringan pub ternama Inggris, Greene King.
Direktur Regal Springs Indonesia, Tri Dharma Saputra mengatakan keberhasilan menembus pasar Eropa tidak lepas dari pemenuhan berbagai sertifikasi internasional yang ketat.
Salah satu sertifikasi utama yang dimiliki perusahaan adalah Aquaculture Stewardship Council (ASC).
“Dengan adanya ASC ini maka budidaya perikanan Indonesia dituntut untuk bertransformasi. Semua diukur, dicatat, dan dievaluasi. Mulai dari pengelolaan air, pemberian pakan, hingga proses menjaga kesehatan dan kesejahteraan ikan,” bebernya.
“Transformasi ini memastikan bahwa tilapia Indonesia tidak hanya berkualitas tinggi, tetapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan,” sambungnya.
Di pasar Inggris, tilapia Indonesia diolah menjadi berbagai menu populer seperti fish and chip hingga sajian boneless premium untuk restoran fine dining.
Produk tersebut disebut memiliki tingkat keluhan konsumen yang sangat rendah sehingga semakin memperkuat posisi tilapia Indonesia di pasar Eropa.
Harga Kompetitif dan Ramah Lingkungan
Selain kualitas produk, harga tilapia Indonesia juga dinilai kompetitif dibandingkan sejumlah jenis whitefish lainnya di pasar global.
Kondisi tersebut membuat tilapia Indonesia semakin mampu merebut pangsa pasar internasional yang sebelumnya didominasi spesies ikan putih lain yang lebih mapan.
Penerapan sistem budidaya berkelanjutan juga menjadi nilai tambah bagi produk perikanan Indonesia di tengah meningkatnya perhatian pasar global terhadap isu lingkungan.
KKP menilai tren konsumsi produk perikanan ramah lingkungan menjadi peluang besar bagi peningkatan ekspor tilapia Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
KKP Genjot Produksi Nila Nasional
Selain mendorong ekspor produk premium, pemerintah melalui KKP juga terus memperkuat produktivitas budidaya ikan nila nasional melalui sejumlah program prioritas.
Salah satu program yang dijalankan yakni Budidaya Ikan Nila Salin (BINS) Karawang serta revitalisasi tambak di kawasan Pantai Utara Jawa atau Pantura.
Program tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas produksi nila nasional sekaligus memastikan seluruh proses budidaya memenuhi standar internasional.
Dengan meningkatnya kapasitas produksi dan penerapan standar global yang ketat, pemerintah optimistis ikan nila Indonesia akan semakin mampu bersaing di pasar ekspor dunia.
Permintaan yang terus tumbuh dari Amerika Serikat dan Eropa juga menjadi peluang besar bagi sektor perikanan nasional untuk memperluas pasar dan meningkatkan nilai ekspor produk kelautan Indonesia.












