Rute Transjakarta 9H Diperpanjang ke Depok, Sopir Angkot Mulai Resah

AZL
Sopir angkot D105 merasa resah dengan masuknya Transjakarta 9H ke wilayah Tanah Baru, Kota Depok. (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Transjakarta rute 9H resmi diperluas hingga kawasan Tugu Tanah Baru, Kota Depok, memicu kekhawatiran di kalangan sopir angkutan kota (angkot) D105 yang mengandalkan trayek konvensional untuk mencari nafkah.

Perluasan layanan transportasi publik ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan konektivitas antara wilayah Depok dan Jakarta.

Namun di sisi lain, kebijakan tersebut menimbulkan kekhawatiran serius bagi pelaku transportasi lokal yang selama ini bergantung pada penumpang harian.

Kehadiran moda transportasi modern dengan sistem terintegrasi dinilai berpotensi menggeser keberadaan angkot yang selama ini menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat di tingkat lokal.

Para sopir angkot D105 yang melayani rute Terminal Depok hingga Pondok Labu mengaku mulai merasakan dampak penurunan jumlah penumpang bahkan sebelum rute baru resmi beroperasi penuh.

Denis (40), salah satu sopir angkot, menyampaikan kekhawatirannya terkait rencana tersebut yang dinilai akan memperparah kondisi ekonomi para sopir.

“Nantinya itu akan sangat berdampak buat sopir angkot kayak kita yang masih bertahan. Sekarang aja penumpang udah sepi, apalagi nanti kalau Transjakarta masuk ke Tanah Baru,” paparnya, Rabu (15/04/2026).

Penurunan jumlah penumpang menjadi persoalan utama yang dihadapi para sopir.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada penghasilan harian, tetapi juga memengaruhi keberlangsungan pekerjaan mereka dalam jangka panjang.

Pendapatan Menurun dan Tekanan Ekonomi

Situasi ekonomi yang dihadapi sopir angkot semakin berat seiring menurunnya minat masyarakat menggunakan transportasi konvensional.

Perubahan preferensi menuju moda transportasi yang lebih modern dan nyaman menjadi tantangan tersendiri.

Denis mengungkapkan bahwa penghasilan yang diperoleh saat ini kerap tidak mencukupi kebutuhan operasional maupun kebutuhan hidup sehari-hari.

“Kadang penghasilan cuma cukup buat makan. Setoran sama bensin juga sering nggak ketutup,” katanya.

Kondisi tersebut mencerminkan tekanan ekonomi yang semakin nyata bagi sopir angkot.

Terutama di tengah meningkatnya biaya operasional seperti bahan bakar dan perawatan kendaraan.

Ketidakpastian pendapatan juga membuat banyak sopir berada dalam posisi rentan, dengan risiko kehilangan mata pencaharian apabila tidak ada intervensi kebijakan yang berpihak.

Minimnya Sosialisasi dan Dialog

Selain persoalan ekonomi, para sopir angkot juga menyoroti kurangnya komunikasi dari pihak terkait mengenai rencana perluasan rute tersebut.

Hingga saat ini, mereka mengaku belum dilibatkan dalam proses sosialisasi maupun diskusi.

Ketiadaan dialog ini menimbulkan kesan bahwa kebijakan diambil tanpa mempertimbangkan dampak langsung terhadap pelaku transportasi lokal.

Harapan pun disampaikan agar pemerintah dapat membuka ruang komunikasi yang lebih luas guna mencari solusi yang adil dan berimbang.

Para sopir menilai bahwa kebijakan transportasi seharusnya tidak hanya berfokus pada modernisasi.

Akan tetapi juga mempertimbangkan keberlangsungan sektor informal yang telah lama berkontribusi terhadap mobilitas masyarakat.

Perluasan Rute dan Tujuan Integrasi Transportasi

Rute Transjakarta 9H sebelumnya hanya melayani perjalanan dari Cipedak menuju Pasar Minggu.

Dengan adanya perluasan, layanan ini kini menjangkau hingga kawasan Tugu Tanah Baru di Depok.

Perubahan jalur dilakukan melalui Jalan Mohammad Kahfi 2, yang dinilai strategis untuk menghubungkan wilayah permukiman dengan pusat aktivitas di Jakarta.

Uji coba lintasan telah selesai dilakukan dan layanan ini direncanakan segera beroperasi secara penuh dalam waktu dekat.

Perluasan rute ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi transportasi publik, khususnya bagi masyarakat yang beraktivitas lintas kota.

Integrasi transportasi menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan sistem mobilitas perkotaan, dengan harapan mampu mengurangi kemacetan dan meningkatkan kenyamanan perjalanan.

Meski membawa sejumlah manfaat dari sisi konektivitas, perluasan layanan transportasi modern juga menghadirkan tantangan baru, terutama dalam aspek sosial dan ekonomi.

Perubahan pola mobilitas masyarakat yang beralih ke moda transportasi terintegrasi berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap angkot.

Hal ini menimbulkan dilema antara kebutuhan modernisasi transportasi dan perlindungan terhadap mata pencaharian masyarakat kecil.

Tanpa adanya kebijakan pendukung, seperti program alih profesi atau integrasi angkot ke dalam sistem transportasi yang lebih luas, dampak negatif terhadap sopir angkot diperkirakan akan semakin besar.

Harapan Akan Solusi Berimbang

Di tengah perubahan yang terjadi, para sopir angkot berharap adanya langkah konkret yang dapat menjembatani kepentingan antara transportasi modern dan konvensional.

Mereka berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi yang tidak hanya meningkatkan kualitas layanan transportasi, tetapi juga menjaga keberlangsungan ekonomi para pelaku usaha kecil.

Keseimbangan antara inovasi dan keberlanjutan menjadi kunci dalam menciptakan sistem transportasi yang adil dan berkelanjutan.

Perluasan rute Transjakarta 9H di Depok menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan publik dapat memberikan dampak luas.

Baik dari sisi positif maupun tantangan yang perlu diantisipasi secara matang.

Dengan pendekatan yang tepat, integrasi transportasi diharapkan mampu menciptakan sistem mobilitas yang tidak hanya efisien, tetapi juga inklusif bagi seluruh masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *