Saat Pesisir Terancam Tenggelam, Mangrove Ternyata Punya Peran Krusial

ARY
Ilustrasi peran mangrove di kawasan pesisir. (Foto: Tom Fisk/Pexels)

adainfo.id – Ekosistem mangrove atau hutan bakau dinilai memiliki peran strategis dalam menghadapi berbagai ancaman lingkungan pesisir, mulai dari abrasi, penurunan muka tanah hingga kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut kemampuan mangrove dalam menangkap sedimen menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga stabilitas kawasan pesisir.

Peneliti Pusat Riset Geoinformatika (PRGI) BRIN, Gathot Winarso, menjelaskan mangrove tidak hanya berfungsi sebagai pelindung alami garis pantai dari terjangan gelombang.

Lebih dari itu, vegetasi pesisir tersebut mampu mengakumulasi sedimen yang terbawa arus dan gelombang sehingga membantu mengurangi dampak penurunan muka tanah di wilayah pesisir.

“Kemampuan mangrove dalam menangkap sedimen sangat dipengaruhi oleh arus dan gelombang yang membawa material sedimen ke kawasan pesisir,” papar Gathot Winarso dikutip, Selasa (02/06/2026).

Mangrove Jadi Benteng Alami Kawasan Pesisir

Menurut Gathot, proses penangkapan sedimen yang terjadi secara alami di kawasan mangrove merupakan mekanisme ekologis yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir.

Vegetasi mangrove yang rapat mampu memperlambat kecepatan arus air sehingga partikel sedimen yang terbawa dapat mengendap dan menambah lapisan tanah di kawasan tersebut.

“Proses ini menjadi salah satu mekanisme penting dalam membantu mitigasi land subsidence di wilayah pesisir,” tuturnya.

Fenomena penurunan muka tanah selama ini menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi sejumlah daerah pesisir di Indonesia, khususnya di wilayah Pantura Jawa yang memiliki tingkat aktivitas pembangunan dan pemanfaatan air tanah yang cukup tinggi.

Karena itu, keberadaan mangrove dinilai menjadi salah satu solusi berbasis alam yang dapat membantu mengurangi dampak kerusakan lingkungan sekaligus meningkatkan ketahanan wilayah pesisir terhadap perubahan iklim.

Luas Mangrove di Pantura Terus Bertambah

Dalam hasil riset yang dipaparkan BRIN, luas kawasan mangrove di sejumlah provinsi di Pulau Jawa menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa dekade terakhir.

Data penelitian menunjukkan luas mangrove di Jawa Barat meningkat dari sekitar 5.000 hektare pada 2002 menjadi 12.000 hektare pada 2024.

Sementara itu, luas mangrove di Jawa Tengah bertambah dari sekitar 9.000 hektare pada tahun 2000 menjadi 16.000 hektare pada 2024.
Peningkatan paling besar terjadi di Jawa Timur.

Kawasan mangrove di provinsi tersebut tercatat berkembang dari sekitar 10.000 hektare pada 1980 menjadi sekitar 30.000 hektare pada 2024.

“Berdasarkan data yang disampaikan, luas mangrove di Jawa Barat meningkat dari sekitar 5.000 hektar pada 2002 menjadi 12.000 hektar pada 2024. Sementara itu, di Jawa Tengah meningkat dari sekitar 9.000 hektar pada 2000 menjadi 16.000 hektar pada 2024, dan Jawa Timur meningkat dari sekitar 10.000 hektar pada 1980 menjadi 30.000 hektar pada 2024,” ungkapnya.

Peningkatan tersebut menunjukkan berbagai upaya rehabilitasi dan konservasi mangrove yang dilakukan selama ini mulai memberikan hasil positif dalam menjaga ekosistem pesisir.

Teknologi Satelit Bantu Pemantauan Mangrove

Selain menyoroti fungsi ekologis mangrove, BRIN juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dalam mendukung penelitian dan pemantauan kawasan pesisir.

Menurut Gathot, data satelit memungkinkan peneliti melakukan pemetaan mangrove secara lebih cepat dan efisien dibandingkan metode konvensional.

Melalui analisis karakteristik reflektansi spektral vegetasi, peneliti dapat membedakan kawasan mangrove dengan vegetasi non-mangrove yang berada di sekitarnya.

Penggunaan citra satelit multispektral dan teknologi Light Detection and Ranging (LIDAR) bahkan memungkinkan identifikasi jenis mangrove, pengukuran kerapatan kanopi, hingga estimasi cadangan karbon biru atau blue carbon yang tersimpan dalam ekosistem tersebut.

“Penginderaan jauh memberikan peluang besar untuk memantau dinamika mangrove secara lebih efektif dan efisien. Termasuk untuk mendukung kajian karbon, kualitas ekosistem, serta mitigasi bencana pesisir,” terangnya.

Data Riset Diharapkan Jadi Dasar Kebijakan

Meski teknologi pemantauan terus berkembang, BRIN mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam proses interpretasi data citra satelit.

Salah satu kendala utama adalah membedakan mangrove dengan vegetasi lain yang memiliki karakter visual serupa ketika diamati dari citra penginderaan jauh.

Karena itu, pemilihan kombinasi kanal spektral dan metode interpretasi yang tepat menjadi faktor penting untuk menghasilkan peta mangrove yang lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

“Melalui riset yang komprehensif ini, kami berharap data penginderaan jauh yang dihasilkan tidak hanya berhenti sebagai dokumen ilmiah,” bebernya.

BRIN berharap hasil penelitian tersebut dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan kebijakan atau policy brief bagi pemerintah daerah, terutama di wilayah sepanjang Pantura Jawa yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.

“Di sisi lain dapat menjadi basis kebijakan (policy brief) yang krusial bagi pemerintah daerah, khususnya di sepanjang jalur Pantura Jawa, dalam merancang strategi adaptasi perubahan iklim dan perlindungan kawasan pesisir yang berkelanjutan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *