Dedi Mulyadi Soroti Pelajar Acungkan Jari ke Guru, Usul Diberikan Sanksi Ini
adainfo.id – Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, menyampaikan keprihatinannya atas aksi sejumlah pelajar di Purwakarta yang mengacungkan jari tengah kepada guru di lingkungan sekolah.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian publik setelah video dan informasi terkait tindakan tidak sopan tersebut beredar luas, memicu diskusi mengenai kedisiplinan dan pembinaan moral di lingkungan pendidikan.
Pemerintah daerah pun langsung merespons melalui koordinasi dengan dinas pendidikan setempat guna memastikan penanganan dilakukan secara tepat.
Berdasarkan laporan dari dinas pendidikan, pihak sekolah telah mengambil langkah awal dengan memanggil orang tua siswa yang terlibat dalam insiden tersebut.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari proses pembinaan serta komunikasi antara pihak sekolah dan keluarga siswa.
“Saya cukup prihatin dengan peristiwa tersebut dan kronologisnya saya sudah mendengarkan paparan dari kepala dinas pendidikan, dan selanjutnya berdasarkan informasi, anak tersebut orangtuanya sudah dipanggil ke sekolah, orangtuanya nangis, merasa menyesal atas tindakan anaknya,” papar Dedi dikutip dalam akun media sosialnya, Minggu (19/04/2026).
Reaksi emosional dari orang tua siswa menunjukkan adanya kesadaran atas kesalahan yang terjadi, sekaligus menjadi titik awal dalam proses pembinaan yang lebih lanjut.
Sekolah Jatuhkan Sanksi Skorsing
Sebagai bentuk penegakan disiplin, pihak sekolah telah menjatuhkan sanksi berupa skorsing kepada para pelajar yang terlibat dalam tindakan tersebut.
Sanksi ini bertujuan memberikan efek jera sekaligus menjadi peringatan bagi siswa lain agar tidak melakukan pelanggaran serupa.
Namun, kebijakan skorsing juga menimbulkan perdebatan mengenai efektivitasnya dalam membentuk karakter siswa, terutama jika tidak disertai dengan pembinaan yang berkelanjutan.
Dalam konteks ini, pendekatan hukuman yang bersifat edukatif dinilai lebih relevan untuk mendorong perubahan perilaku jangka panjang.
Menanggapi sanksi yang telah diberikan, Dedi Mulyadi mengusulkan alternatif hukuman yang lebih berorientasi pada pembentukan karakter siswa.
Ia menyarankan agar pelajar yang terlibat tidak hanya menjalani skorsing, tetapi juga diberikan tugas yang bersifat edukatif dan bermanfaat.
“Sekolah sudah memberikan skorsing selama 19 hari anak itu mendapat bimbingan di rumah, tetapi saya memberikan saran, anak itu tidak skorsing 19 hari, tapi diberikan hukuman membersihkan halaman sekolah, menyapu dalam setiap hari, dan membersihkan toilet, ini saran saya,” paparnya.
Menurutnya, aktivitas tersebut dapat membantu siswa memahami tanggung jawab serta menanamkan nilai kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.
Durasi Hukuman Disesuaikan Perkembangan
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa durasi hukuman sebaiknya tidak bersifat kaku, melainkan disesuaikan dengan perkembangan perilaku siswa selama proses pembinaan berlangsung.
“Waktunya bisa satu bulan, dua bulan, tiga bulan, tergantung perkembangan anak itu sendiri,” jelasnya.
Pendekatan ini dinilai memberikan ruang evaluasi yang lebih fleksibel, sehingga proses pembinaan dapat berjalan secara bertahap dan berkelanjutan.
Dengan demikian, tujuan utama dari pemberian hukuman tidak hanya sebatas memberikan efek jera, tetapi juga membentuk karakter siswa secara positif.
Dalam pandangannya, setiap bentuk hukuman yang diberikan kepada siswa harus memiliki nilai edukatif yang jelas dan berorientasi pada pembentukan karakter.
“Prinsip dasar setiap hukuman yang diberikan, harus hukuman yang bermanfaat bagi pembentukan karakter. Bagaimana pun itu adalah anak yang perlu dibimbing oleh orangtua dan gurunya,” tutupnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya peran kolaboratif antara sekolah dan keluarga dalam membentuk perilaku siswa.
Kasus ini juga menjadi refleksi bagi dunia pendidikan mengenai pentingnya pendekatan yang seimbang antara penegakan disiplin dan pembinaan moral.
Sorotan Publik terhadap Etika Pelajar
Insiden di Purwakarta ini turut memicu perhatian luas dari masyarakat, terutama terkait etika dan sikap pelajar terhadap guru.
Perubahan perilaku siswa di era digital menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan, yang dituntut untuk terus beradaptasi dalam menghadapi dinamika sosial.
Selain itu, peran lingkungan, termasuk keluarga dan masyarakat, juga menjadi faktor penting dalam membentuk karakter siswa.
Kasus ini memperlihatkan bahwa pembinaan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak secara menyeluruh.
Dengan adanya perhatian dari pemerintah daerah, diharapkan penanganan kasus ini dapat menjadi contoh dalam penerapan pendekatan pendidikan yang lebih humanis dan berorientasi pada pembentukan karakter.












